Cerita Amaq Mukminah: Sebuah Hidup yang Sederhana dengan Harapan yang Besar

Di sebuah rumah ber cat hijau , Amaq Mukminah menjalani kesehariannya sebagai ibu rumah tangga bersama seorang anaknya yang masih kecil. Kehidupan keluarganya berada di bawah garis kemiskinan. Suaminya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak menentu, bergantung pada ada atau tidaknya pekerjaan di sawah milik orang lain.

Nasi dengan lauk seadanya menjadi bagian dari keseharian mereka. Terkadang hanya dengan garam, sayur sederhana, atau makanan yang tersedia di sekitar rumah. Saat tim Yayasan Wahana Mandiri Indonesia (YWMI) berkunjung ke rumahnya, Amaq Mukminah menceritakan kisah hidupnya dengan suara pelan. Ia mengatakan bahwa kebutuhan makan keluarganya sangat terbatas. Untuk menikmati makanan bergizi seperti daging adalah sesuatu yang sangat jarang mereka rasakan.

Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Amaq Mukminah mengungkapkan bahwa terakhir kali keluarganya makan daging adalah saat program qurban YWMI pada tahun 2025 lalu. Bahkan untuk makan telur, makanan yang bagi sebagian orang terasa biasa, keluarganya terakhir menikmatinya sekitar tiga bulan yang lalu.

Meski hidup dalam keterbatasan, Amaq Mukminah tetap menyimpan harapan besar untuk anaknya. Di tengah segala kesulitan, ia tetap bertahan dan berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Baginya, kebahagiaan bukanlah tentang makanan mewah atau kehidupan yang berlimpah, tetapi melihat anaknya dapat makan dengan cukup dan tumbuh dengan sehat.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Assalamualaikum , bisa kami bantu ?
Asalamualaikum...ada yang bisa kami bantu ?
Powered by